Kamis, 19 Januari 2012

KESAKSIAN RAJA JIN

Kesaksian raja jin. itulah buku yang di tulis oleh Abu aqila dan di terbitkan oleh senayan abadi publishing. membaca judul buku itu  pastilah yang terlintas di benak kita  isinya tentang pengakuan raja jin. mungkin akan tergambar juga bagaimana raja jin itu membuat kesaksian, apa di wawancarai abu aqila atau raja jin itu sendiri yang bercerita atas inisiatifnya sendiri namun bagaimanapun akan terbersit kekaguman di hati kita pada Abu aqila yang bisa berdialog dengan jin, bahkan bukan sembarang jin tapi rajanya jin!
semua gambaran itu jelas membuat kita bernafsu membeli buku  tersebut apalagi bagi mereka yang menyukai hal-hal ghoib atau supranatural seperti saya.
namun setelah membeli dan membaca buku itu ternyata bayangan kita salah. yang di maksud raja jin adalah manusia biasa yang menurut Abu aqila bernama KH Kasman suja'i bukan mahluk dari golongan jin (buku kesaksian raja jin halaman Vi)
     Setiap penulis buku tentu ingin bukunya laris manis dan penulisan judul yang menarik memang mempengaruhi konsumen untuk membeli sebuah buku namun kita harapkan judul buku memang sesuai dengan isinya. coba bandingkan dengan buku yang berjudul 'DIALOG DENGAN JIN MUSLIM' karangan Muhammad isa daud. di buku itu memang Muhammad isa daud berdialog dengan jin yang mengaku muslim walau jin itu menggunakan jasad orang lain.
     kalaupun buku itu akan tetap memakai judul kesaksian raja jin mestinya ada tanda petik pada kalimat raja jin. tanda petik akan memberitahu pembaca bahwa yang di maksud raja jin bukan raja jin dalam arti yang sebenarnya.
     kedepannya kita berharap para penulis buku tidak menghalalkan segala cara agar bukunya laris termasuk dengan membuat judul yang bombastis yang sebenarnya tidak merujuk pada arti yang sebenarnya.
isi buku itu sendiri menurut saya banyak yang perlu di kritisi.
perhatikan dialog yang terjadi antara Abu aqila (p) dengan KH Kasman saja'i gurunya yang di klaim sebagai raja jin (rj)
p; "dari bentuk dan sosok tubuh jin menurut kesaksian jin muslim dalam buku 'dialog dengan jin muslim' ini, dapatkah pengakuan ini kita jadikan patokan untuk kita sampaikan kepada umat islam?"
rj; "jangan! apabila buku itu di baca oleh orang-orang yang belum paham seluk beluk kehidupan jin akan membuatnya tersesat dan membuat manusia minder menghadapi golongan jin. sudah banyak korban yang datang berobat kepada saya karena kesurupan setelah membaca dan mengikuti saran-saran jin muslim dalam buku itu."
itulah dialog yang terjadi antara Abu aqila dengan 'raja jin' (buku kesaksian raja jin hal 11)
saya juga pernah membaca dan memiliki buku dialog dengan jin muslim karangan Muhammad isa daud. menurut saya di buku itu tak ada satu saranpun yang menyimpang dari islam. amalan yang manakah yang membuat orang kesurupan setelah membaca buku itu? dan rasanya tidak mungkin kalau hanya membaca sebuah buku orang jadi kesurupan. lagi pula kalau membaca buku itu orang jadi kesurupan mestinya majalah misteri dan majalah atau tabloid sejenis, juga film-film horor lebih membuat pembaca dan penontonnya kesurupan karena cerita yang di sajikan majalah dan film seperti itu, selain cerita mistik juga tidak berdasar pada nash Alqur'an dan hadits. nyatanyakan tak ada yang kesurupan.
soal bentuk fisik jin seperti yang di gambarkan buku dialog dengan jin muslim menurut saya bisa benar bisa juga tidak. namun menolaknya mentah-mentah bagi saya sama dengan orang yang menerima pendapat itu mentah-mentah.
     di halaman 13 raja jin berpendapat tidak ada manusia yang mampu kawin dengan golongan jin dan kalaupun ada orang yang pernah mengalami atau merasa mampu mengawini jin berarti ia telah menjadi musrik.
pendapat raja jin ternyata bertentangan dengan pendapat syeikhul islam Ibnu taimiyah.  dalam kitabnya al majmu Ibnu taimiyah mengatakan 'bisa saja terjadi di mana manusia menikah dengan jin kemudian beranak pinak. hal ini sudah sering terjadi dan di kenal luas di kalangan masarakat' (majmu al fatwa 19/39)
begitu juga Imam Suyuthi pernah menyampaikan beberapa cerita dari orang-orang dulu dan beberapa atsar dari para ulama yang menunjukan terjadinya kasus pernikahan antara manusia dengan bangsa jin.
jika Abu aqila dan gurunya mau berbeda pendapat dengan ulama di atas tidak masalah, tapi sebaiknya jangan mengatakan yang beda pendapat itu musrik
     Abu aqila sangat menekankan bahwa perkara yang ghoib (jin ) harus berdasar pada nash Al qur'an atau hadits nabi namun saat gurunya memberi jawaban nama-nama suku jin tidak di lampirkan dalil baik dari Alqur'an atau hadits nabi. lalu dari mana gurunya tahu dalam kehidupan jin ada 300 suku bangsa di antaranya suksuk, alhinu, alghilam. qarin, kinzab, ifrit, kuntiltana, thaluh, tsa'bar, zalnabur, al a'war, maswath , dasim dan lain-lain ? (halaman 22-23)
     di halaman 24 raja jin mengatakan kalau jin islam yang ada di buku dialog dengan jin muslim adalah setan. alasannya hanya setanlah yang mau bekerjasama dengan manusia kalau jin muslim tidak mungkin mau bekerjasama dengan manusia. raja jin menggunakan surat al jin ayat 6 sebagai dalilnya.begitupun di halaman 29 raja jin mengatakan haram hukumnya berhubungan dengan jin
menurut saya harus di lihat dulu kerjasama seperti apa antara jin dan manusia sehingga kita bisa berpendapat jin tersebut setan.
Majdi muhammad asy-shahawi, penulis buku tharid al jin masakin al ins yang telah di terjemahkan oleh Imtihan syafi'i dengan judul mengusir jin dari rumah membahas bagaimana jaman dulu banyak jin yang meminta fatwa pada ulama dari kalangan manusia. (buku mengusir jin dari rumah halaman 34-37). apakah jin yang meminta fatwa dan menghadiri majlisnya hasan al basri itu juga akan di sebut setan karena berhubungan dengan manusia?
     di halaman 138 raja jin melarang kita membacakan ayat-ayat al qur'an untuk kasus kesurupan dan gangguan non medis lain. menurut raja jin cara pengobatannya cukup dengan mengatakan dua kalimat. 'aku mengutukmu dengan kutukan Allah' dan 'keluarlah hai musuh Alla'
menurut saya mengeluarkan jin dengan membaca ayat al qur'an tidak bertentangan dengan ajaran islam. dalilnya 'dan Kami turunkan dari al qur'an sesuatu yang menjadi penawar (penyembuh) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman' (QS Al isro 82).
para sahabat nabi sendiri pernah mengobati orang dengan membacakan surat al fateha dan nabi tidak melarang. bahkan nabi juga bersabda 'janganlah jadikan rumah kalian seperti kuburan, bacakanlah surat al baqoroh karena setan akan lari dari rumah yang di bacakan surat al baqoroh' (HR BUKHORI).
wallahua'lam

2 Komentar:

Pada 21 April 2014 22.07 , Anonymous Anonim mengatakan...

Hati-hati dengan buku itu. Khusus mengenai bab masalah tersihirnya nabi SAW, tercemar pemikiran ilmu kalam yang menafikan hadits sahih karena bertentangan dengan akal. silakan bandingkan dengan :

http://muslim.or.id/sejarah-islam/fatwa-ulama-rasullullah-shallallahualaihi-wasallam-pernah-disihir-dan-apakah-beliau-diracuni.html

 
Pada 21 April 2014 22.20 , Anonymous Anonim mengatakan...

Hati-hati dengan buku KESAKSIAN RAJA JIN karangan ABU AQILA tersebut. Bab mengenai tersihirnya nabi saw terkontaminasi dengan ILMU KALAM karena menolak hadits sahih yang tidak sesuai dengan akalnya. Kita doakan semoga ustadz ABU AQILA cepat bertaubat dan kembali kepada pemahaman berlandaskan Al-Quran dan Assunnah, sebagimana dipahami oleh nabi dan para sahabatnya.
Untuk perbaindingan silakan cek di:
http://muslim.or.id/sejarah-islam/fatwa-ulama-rasullullah-shallallahualaihi-wasallam-pernah-disihir-dan-apakah-beliau-diracuni.html

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda