Kamis, 15 Maret 2012

HARTA KARUN

     Tengah malam yang sepi. gerimis yang turun sejak sore tak mengurungkan niat ketiga orang itu untuk keluar rumah. dengan bantuan penerangan senter mereka melewati jalan setapak yang gelap. menyusuri pematang-pematang sawah yang sepi. hanya bunyi jangkrik yang terdengar.
di depan sebuah sawah yang luas, yang padinya baru saja di panen, ketiga orang itu berhenti.
     "ini benar sawah pak lurah?" tanya seorang lelaki berpakaian serba hitam
     "ya ini memang sawah saya"
     "kemarin waktu melihat ada pusaka terbang di angkasa kami mencoba mengejar. ternyata pusaka itu jatuh di sini, di sawah pak lurah. pusaka itu masuk ke dalam tanah. lalu kami mencoba melihat dengan mata batin. ternyata selain pusaka tadi, ada banyak harta peninggalan jepang yang tertanam di situ. kebanyakan berbentuk emas batangan"
pak lurah mendengarkan dengan seksama tapi ada keraguan yang ia sembunyikan.
     "saya tahu pak lurah pasti masih ragu. karena itu kami mengajak pak lurah kesini agar pak lurah bisa melihat sendiri. kami akan bantu agar pak lurah bisa melihatnya. sekarang pak lurah pejamkan mata."
walau ragu pak lurah tidak membantah. di pejamkan matanya lalu orang yang berpakaian serba hitam itu menempelkan telapak tangannya di mata pak lurah. terlihat mulutnya komat kamit membaca mantra
     "sekarang buka mata pak lurah"
pak lurahpun membuka mata. suasana masih gelap seperti saat ia belum menutup mata.
     "coba pak lurah melihat ke bawah"
pak lurah menurut dan ajaib di kedalaman tanah, sekitar lima meter di dalam tanah ia melihat dengan jelas peti yang berisi tumpukan batangan emas. satu peti lagi berisi perhiasan seperti kalung, gelang, cincin dan perhiasan lain yang semuanya terbuat dari emas dan intan permata. sementara di depan kedua peti itu berdiri tegak sebuah keris panjang. gagang keris itu berwarna kuning keemasan, mungkin berlapis emas.
ketika pak lurah memandang ke tempat lain ia melihat mahluk seperti raksasa berjalan ke arah dua peti emas itu lalu duduk seperti menjaga emas itu. ketika pertama melihat mahluk raksasa itu, pak lurah hampir saja berteriak, untung segera di tenangkan orang yang berpakaian serba hitam itu.
     "cukup ya pak lurah?"
pak lurah mengangguk. lalu orang berpakaian serba hitam itu menempelkan telapak tangannya, kali ini di kening pak lurah. ketika tangan lelaki itu di lepas, pak lurah tak bisa lagi melihat harta karun yang terpendam di dalam tanah sawahnya.
     "pak lurah sudah percaya?"
     "ya saya percaya. tapi kenapa bapak-bapak tidak mengambil sendiri harta karun itu?" tanya pak lurah menyelidik.
mendengar pertanyaan itu lelaki berpakaian serba hitam itu tertawa, tak ada tanda ketersinggungan sedikitpun di wajahnya. lelaki satunya hanya menyunggingkan senyum.
     "inikan sawah pak lurah. kalau tiba-tiba kami menggali sawah pak lurah, kalau tidak di gebugi warga ya bisa di laporkan ke polisi. alasan kedua, kami tak punya dana untuk membiayai ritual pengangkatannya"
     "memang harus keluar dana?"
     "ya pak lurah. genderwo yang menjaga harta tadi hanya mau pergi kalau kita memberinya daging tiga ekor sapi. selain itu sebelum di angkat harta itu harus di sodakohi, ya sekitar dua juta yang uangnya harus di bagikan ke fakir miskin. setelah harta itu di angkat. emas itu tidak boleh langsung di pakai, harus di adakan sukuran dulu"
pak lurah mengangguk mengerti
     "kira-kira butuh biaya berapa semuanya?"
laki-laki itu berfikir sebentar
     "kira-kira empat puluh juta. kalau pak lurah mau akan kami angkatkan harta itu. kami hanya minta dua puluh juta"
pak lurah bimbang. biaya pengangkatan harta dan untuk orang itu jadi enam puluh juta.
     "kalau emas batangan yang begitu banyak itu di jual, di tambah perhiasan-perhiasan emasnya juga, mungkin uangnya bisa mencapai puluhan milyar. apa artinya enam puluh juta di banding puluhan milyar"
pak lurah mengangguk-angguk setuju. kini ia tinggal memikirkan cara mendapatkan uang 60 juta.
                                                                  ***

     "Bapak yakin mereka tidak bohong?" tanya istri pak lurah saat pak lurah mengatakan mau menjual mobil dan sawah untuk biaya pengangkatan harta karun itu.
     "Bapak melihat sendiri emas-emas itu bu" jawab pak lurah meyakinkan
     "kenapa mereka tidak mengambil sendiri harta itu?"
     "itukan sawah kita bu. kalau tiba-tiba mereka menggali sawah kita, ya bisa mendapat masalah"
bu lurah mengangguk paham.
     setelah mendapatkan uang 60 juta hasil dari penjualan beberapa sawah dan mobil, pak lurah menghubungi kedua dukun sakti itu.
     "baiklah pak lurah, nanti malam kami akan melakukan ritual agar penjaga harta karun itu mau pergi. besok paginya pak lurah bisa memulai penggalian" ucap lelaki berbaju hitam itu setelah menerima uang 60 juta dari pak lurah.
     esok paginya, ketika mentari belum benar-benar bersinar pak lurah sudah memerintahkan pekerjanya menggali sawahnya sedalam 6 meter. tempat emas-emas itu terpendam sudah di tandai oleh pak lurah sewaktu ia bisa melihat emas itu dengan mata kepala sendiri.
     beberapa hansip dan preman-preman kampung di bayar mahal untuk mengamankan lokasi. mereka sudah di instruksikan pak lurah, kalau ada warga yang bertanya jawab saja pak lurah mau bikin kolam ikan.
     semakin dalam tanah itu di gali semakin deg-degan hati pak lurah dan keluarganya yang menyaksikan langsung penggalian itu.
seribu rencana telah bermain-main di benak pak lurah, andai emas-emas itu ia dapatkaan. yang pertama uang itu akan ia gunakan untuk pencalonan dirinya menjadi anggota DPRD, kalau bisa malah DPR pusat pada pemilu nanti. sebagian kecil akan ia gunakan untuk menyenangkan istri dan anak-anaknya. lalu...pak lurah melirik istrinya, takut sang istri bisa membaca isi hatinya, ia akan membelikan Rahma, gadis simpanannya, rumah, mobil dan segepok uang. pasti gadis yang masih muda belia itu akan melayaninya dengan kehangatan lagi.
     ketika kedalaman galian sudah mencapai enam meter para pekerja berhenti dan menatap pak lurah yang bengong.
     "pak lurah, ini sudah enam meter, mau apalagi?" tanya salah satu pekerja.
pak lurah memandang lubang galian itu dengan heran, ia sangat yakin ini lokasinya. selain sudah di beri tanda, pak lurah juga masih ingat dengan pasti saat ia berdiri dengan dua dukun itu.
     "coba gali dua meter lagi. area galian juga di perlebar lagi"
setiap pekerja menyelesaikan tugasnya dan pak lurah tidak menemukan emas-emas itu maka kalimat perintah tadi di ulang lagi tapi sampai sawahnya telah menjadi mirip danau buatan, emas itu tak juga di temukan.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda